Jangan Tawar Hati
Apakah yang dimaksud dengan tawar hati ? Dan siapakah orang yang dapat
dijangkiti "virus" tawar hati ? Menurut Alkitab, tawar hati ini tidak
ada korelasinya dengan seberapa besar jumlah tabungan, besarnya pengaruh
dan kekuasaan, seberapa populer orang itu. Buktinya, Saul, seorang raja yang memiliki segalanya, mengalami tawar hati.
1 SAMUEL 17 : 32 — “ Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang
menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang
Filistin itu.”
Sepintas, tutur kata Daud kepada Saul dalam ayat
di atas ini biasa saja. Perkataan Daud ini menjadi luar biasa jika kita
melihat siapa Daud dan siapa Saul. Saul saat itu adalah raja Israel
yang memiliki segalanya: kekuasaan, harta, kemewahan, kehormatan,
dilayani dengan servis kelas satu selama 24 jam, 7 hari seminggu, 366
hari setahun. Sedangkan Daud? Dia seorang gembala yang tak punya
apa-apa. Yang bisa dinikmatinya hanyalah hijaunya padang rumput sebagai
sofa merangkap kasur dan biru atau kelabunya langit (tergantung cuaca)
yang menjadi atapnya.
Tidak jauh berbeda dengan situasi di
atas, merupakan hal aneh bila seorang pemilik mobil mewah turun dari
mobilnya dan dihibur oleh seorang tukang parkir, "Jangan tawar hati,
Pak!" Seharusnya si tukang parkirlah yang gelisah memikirkan anak
istrinya makan apa hari itu; hal yang sama sekali tidak menjadi masalah
bagi si kaya.
Dari hal ini kita belajar, uang banyak, badan
sehat, memiliki kekuasaan dan pengaruh bukan jaminan seseorang tidak
akan mengalami tawar hati. Orang yang tidak mempunyai uang sering
berpikir, kalau saja dia mempunyai banyak uang, dia tidak akan tawar
hati. Terbukti banyak orang kaya yang resah dengan keamanan hartanya.
Apakah yang dimaksudkan dengan tawar hati ?
Orang yang tawar hati adalah orang yang tahu dirinya mempunyai masalah,
namun tidak berani dan tidak mau menghadapinya. Sedangkan orang yang
tidak tawar hati adalah orang yang tahu ada masalah di depannya, namun
dia mau menghadapinya dan yakin akan mampu menghadapinya.
Apakah masalah yang dihadapi Saul lebih besar daripada yang dihadapi
Daud sehingga Saul tawar hati ? Masalah mereka sama: Goliat. Jadi jangan
kita menganggap masalah orang lain lebih besar dibandingkan masalah
kita.
1 SAMUEL 17 : 33 — “ Tetapi Saul berkata kepada Daud:
"Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan
dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah
menjadi prajurit."
Orang yang menganggap tidak ada jalan keluar
atau tidak mungkin menang dalam menghadapi masalahnya, berarti orang
itu sudah masuk ke dalam area tawar hati. Parahnya, Saul bukan saja
merasa dirinya tidak mampu menghadapi Goliat, dia juga menganggap Daud
tidak mampu menghadapi Goliat. Ini tawar hati kategori berat. Memangnya
Saul tahu pasti kemampuan Daud? Jika tawar hati Saul tergolong ringan,
dia mengatakan, "Tidak mungkin aku dapat menghadapi Goliat, namun
engkau, siapa tahu?"
Itulah sebabnya banyak orang yang tawar
hati berat tidak mau share dengan hamba TUHAN, sebab dia merasa percuma.
Dia merasa tidak mampu menghadapinya, demikian pula pendeta. Seorang
suami yang sedang ruwet menghadapi masalah kantor dapat share dengan
istri yang mungkin dapat memberikan nasehat dan bantuan. Namun bila
suami mengatakan istrinya tidak mungkin dapat membantu, suami sudah
membuang kemungkinan bantuan tersebut.
Saul mengatakan bahwa
Daud masih muda, tidak mungkin menang menghadapi Goliat yang sudah sejak
masa mudanya telah menjadi prajurit. Penyebab seseorang tawar hati
bukan besar kecilnya masalah, namun cara memandang masalah yang jauh
lebih besar daripada dirinya atau kemampuannya. Melihat kemampuan
berperang dan tubuh Goliat yang jauh lebih kuat dan besar dibandingkan
Daud, Saul tawar hati. Menganggap musuh jauh lebih kuat sering membuat
orang kalah sebelum berperang.
Mengapa Daud tidak tawar hati ?
Daud tidak tawar hati bukan karena lebih kuat dari Goliat. Daud tidak
menghiraukan dirinya yang kecil dan lemah dibandingkan Goliat. Daud
menyadari ALLAH menyertai dia, ALLAH yang jauh lebih besar daripada
Goliat dan mampu mengalahkan Goliat diibaratkan hanya dengan
menjentikkan ujung jari-NYA saja. Ingatlah perkataan TUHAN YESUS, "AKU
mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala." Domba pasti
kalah melawan serigala. Namun, bila domba itu diutus ALLAH yang
Mahakuasa, dengan back up Sang Pengutusnya, domba itu pasti menang.
1 SAMUEL 17 : 34 - 36 — “ Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini
biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau
beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku
mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.
Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya
lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah
dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia
akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah
mencemooh barisan dari pada ALLAH yang hidup."
Melihat raja
Saul yang tawar hati, Daud menguatkan Saul dengan menceritakan
pengalaman hidupnya yang mengalami kemenangan bersama TUHAN. Sebagai
gembala, kadang-kadang Daud didatangi singa atau beruang yang mau
mengganggu domba-domba yang digembalakannya. Dengan berani Daud mengejar
singa atau beruang itu. Padahal, biasanya manusia yang lari ketakutan
dikejar binatang buas. Ini menggambarkan bahwa orang yang tidak tawar
hati tidak akan lari dari masalah; dia berani menghadapinya, dan menang.
Sebaliknya Saul sudah merasa tidak mungkin menang sebelum menghadapi
Goliat.
Dalam ayat 36 Daud mengatakan bahwa Goliat akan sama
nasibnya dengan salah satu binatang yang dibantainya itu. Daud tidak
menganggap Goliat musuh spesial yang tak mampu dikalahkannya. Baik
singa, beruang atau Goliat si Filistin, sama saja bagi Daud. Sebab bukan
dia sendiri yang menghadapinya. Sebagai orang yang diutus TUHAN, Sang
Pengutus akan memberinya kekuatan mengalahkan musuhnya.
1
KORINTUS 10 : 13 — “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah
pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab
ALLAH setia dan karena itu IA tidak akan membiarkan kamu dicobai
melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA akan memberikan
kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Yang disebut masalah tentunya sesuatu yang lebih besar daripada kekuatan
kita. Misalnya, jika kita hanya memiliki uang sebesar satu juta rupiah
dan memiliki hutang seratus juta rupiah, itu merupakan masalah. Tidak
masalah jika uang seratus juta rupiah dan ada tagihan sebesar seratus
ribu rupiah. Rasul Paulus mengatakan bahwa pencobaan, tantangan yang
kita dihadapi itu sesuatu yang biasa, yang kecil. Masalah yang
sebenarnya besar, namun menjadi kecil, sebab ALLAH itu setia, DIA
beserta kita dalam menghadapinya masalah tersebut dan memberikan jalan
keluar.
Sebesar apa pun masalah itu, tidak lagi menjadi masalah
jika ada jalan keluar atau solusi. Daud melihat Goliat sebenarnya
masalah besar, namun menjadi masalah tak berarti karena TUHAN memberikan
jalan keluarnya. Sedangkan Saul tawar hati karena tidak tahu jalan
keluar dalam menghadapi Goliat yang dianggapnya sangat kuat itu. Apa
penyebab Saul tidak mengetahui jalan keluar dalam menghadapi Goliat ?
Sebab Saul telah hidup jauh dari TUHAN.
1 SAMUEL 17 : 37 — “
Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan
dari cakar beruang, DIA juga akan melepaskan aku dari tangan orang
Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai
engkau."
Perkataan Daud, "TUHAN yang telah melepaskan aku..."
merupakan bukti bahwa TUHAN yang memberikan jalan keluar, bukan Daud
yang mencari jalan keluar sendiri atas masalahnya. Apa pun masalahnya,
siapa pun musuhnya, semua dapat diatasi karena TUHAN yang memberikan
jalan keluar. Karena TUHAN yang memberikan jalan keluar, berarti orang
yang memiliki hubungan yang erat dengan TUHAN yang akan menerima jalan
keluar dari TUHAN. Dengan demikian, orang yang dekat dengan TUHAN tidak
akan tawar hati.
Setelah Saul mendengar kesaksian Daud yang
menguatkan, apakah iman Saul bangkit ? Tidak. Jika imannya bangkit, dia
akan berani maju menghadapi Goliat. Saul tidak pergi; dia menyuruh Daud
yang pergi menghadapi Goliat.
1 SAMUEL 17 : 38 — “ Lalu Saul
mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di
kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.”
Seberapa pun
lengkap dan canggihnya perlengkapan perang dan senjata yang dimilikinya,
orang yang tawar hati tidak berani menghadapi musuh. Saul "mendandani"
Daud dengan pakaian perang Saul. Jika Saul benar-benar beranggapan,
dengan senjata dan pakaian perang itu mampu mengalahkan Goliat, mengapa
Saul tidak memakainya sendiri dan maju menghadapi Goliat ? Memakai baju
perang dan membawa pedang merupakan metode Saul yang dipaksakan untuk
diterapkan kepada Daud.
Kita jangan memakai cara kita sendiri
dalam menghadapi masalah jika tahu hal itu mendatangkan kekalahan.
Banyak orangtua bertanya, salahkah menerapkan metode memukul anak untuk
membuat anaknya mau belajar ? Saya tidak menjawab boleh atau tidak. Saya
bertanya apakah metode tersebut membuat anak rajin belajar dan
meningkatkan nilainya ? Ternyata tidak. Jika hasilnya nol besar, mengapa
diteruskan ?
1 SAMUEL 17 : 39 — “ Lalu Daud mengikatkan
pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab
belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak
dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya."
Kemudian ia menanggalkannya.”
Dengan memakai pakaian perang
Saul, Daud malah kesulitan untuk berjalan. Artinya, hidup kita tidak
akan berhasil jika kita berkeras menggunakan metode orang yang kalah.
Daud bertindak tegas: menanggalkan pakaian perang itu. Artinya, Daud
tidak mau dipengaruhi untuk menggunakan metode yang jelas-jelas membawa
kekalahan. Dengarkanlah nasehat dari orang yang sudah mengalami
kemenangan dan menerapkan metode yang membawa kemenangan, yaitu
mengandalkan TUHAN. Seharusnya Saul yang mendengarkan Daud, sebab Daud
telah mengalami kemenangan melawan singa dan beruang.
1 SAMUEL
17 : 40 - 42 — “ Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya
dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung
gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya
dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang
yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya
ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda,
kemerah-merahan dan elok parasnya.”
Setelah menanggalkan
pakaian perang dan senjata dari Saul, Daud menyiapkan senjatanya,
senjata yang akan membawanya pada kemenangan. Sebelum memakai senjata
yang membawa kemenangan, Daud harus menaruh senjata dari Saul terlebih
dahulu. Dia tidak boleh menggunakan pedang Saul dan senjata berupa
tongkat dan lima batu secara bersamaan. Kita tidak dapat mencampur
metode TUHAN dengan pola pikir kita sendiri. Metode TUHAN terlalu
sempurna untuk ditambahi dengan metode kita. Buat apa menggunakan metode
sendiri bila metode TUHAN sudah sangat sempurna dan pasti membawa
kemenangan ?
Tindakan Daud dalam menghadapi musuh: Daud
mendekati Goliat. Sebelumnya Daud juga mengejar binatang buas yang
mengganggu kawanan dombanya. Daud bukan dikejar musuh; dia yang
mendekati dan mengejar musuh. Dalam menghadapi masalah, anak TUHAN perlu
meneladani Daud yang berani menghadapi masalah, tidak lari dari
masalah. TUHAN sudah memberikan kemenangan bagi kita. Tugas kita adalah
mendekati musuh. Kemenangan itu tidak dapat kita raih kalau kita tidak
berani menghadapi musuh. TUHAN tidak berfirman, "Bersembunyilah di
belakang-KU, AKU akan membasmi musuhmu." Tidak. Daud, juga kita, harus
maju mendekati atau menghadapi musuh itu.
MAZMUR 144 : 2 — “
yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku
dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan
bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!”
Selain membawa senjata berupa
tongkat dan lima batu yang diambil dari sungai serta umban, Daud juga
memiliki senjata lain, yaitu perisai. Perisai Daud ini sangat berbeda
dengan perisai yang dimiliki Goliat. Perisai Goliat terbuat dari logam
dan dibawa oleh seorang pembawa perisai (ayat 41). Sedangkan perisai
Daud adalah TUHAN Yang Mahakuasa. Dengan senjata luar biasa ini yang
menjadi pelindung dan bentengnya, Daud sama sekali tidak perlu takut
menghadapi musuh sebesar apa pun. Sedangkan Saul, senjata Saul sama
dengan senjata Goliat. Bedanya, kekuatan Saul lebih kecil dibandingkan
Goliat. Hal tersebut membuat Saul tawar hati.
1 SAMUEL 17 : 45 —
“ Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku
dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau
dengan nama TUHAN semesta alam, ALLAH segala barisan Israel yang
kautantang itu.”
Daud tahu pasti senjata yang dipakai Goliat:
pedang, tombak dan lembing. Seandainya saja Daud memakai senjata yang
sama, tentu saja dengan ukuran mini dibandingkan Goliat, apakah Daud
tidak akan ditertawakan Goliat ? Jika membawa senjata yang sama, Daud di
hadapan Goliat akan seperti anak imut yang sedang main perang-perangan,
bukan musuh yang patut diperhitungkan.
Daud membandingkan
senjata Goliat, yakni pedang, tombak dan lembing dengan senjatanya,
yakni Nama TUHAN semesta alam. Senjata Daud jelas lebih besar daripada
senjata dan kekuatan Goliat. Dengan penuh keyakinan Daud menghadapi
musuh, sebab Daud menganggap masalah yang dihadapinya itu tidak terlalu
hebat, biasa-biasa saja dibandingkan dengan kekuatan TUHAN yang
menyertai Daud. Dengan memakai kekuatannya sendiri, Daud memang tidak
akan mampu mengalahkan Goliat. Namun dengan TUHAN yang menjadi
perisainya, Daud lebih dari mampu dalam menghadapi Goliat.
Dengan menerapkan hal yang sama dengan yang dikatakan Daud, mendatangi
masalah dengan Nama TUHAN, TUHAN akan mendengar dan membela kita. TUHAN
tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kita, sehingga kita pasti menang.
Salahnya, Saul tidak pernah menyerahkan masalahnya kepada TUHAN; Saul
tidak mau berkata seperti Daud yang mendatangi Goliat dengan Nama TUHAN;
dia tetap mengandalkan senjata dan pakaian perangnya untuk dipakai
Daud. Hasilnya, Saul tawar hati.
1 SAMUEL 17 : 46 - 47 — “ Hari
ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan
mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga
aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada
burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh
bumi tahu, bahwa Israel mempunyai ALLAH, dan supaya segenap jemaah ini
tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan
lembing. Sebab di tangan TUHAN-lah pertempuran dan IA pun menyerahkan
kamu ke dalam tangan kami."
Tanpa ragu sedikit pun Daud
mengatakan kepada musuhnya itu, "Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan
engkau ke dalam tanganku..." TUHAN memberikan kemenangan hari ini, bukan
besok. Setiap hari ada masalahnya sendiri. Jika masalah hari ini tidak
terselesaikan, keesokan harinya masalah kita sudah menjadi dua, lusa
menjadi tiga, dan seterusnya. Masalah hari ini dituntaskan TUHAN hari
ini juga.
"...TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku
dan aku akan mengalahkan engkau..." menunjukkan bahwa sudah menjadi
tugas kita untuk mengalahkan musuh atau masalah. Musuh sudah pasti kalah
karena TUHAN sudah menyerahkan musuh itu untuk kita kalahkan. Kita
hanya perlu mengeksekusinya saja. Jalan keluar sudah disiapkan TUHAN
bagi kita. Kita harus melangkah di jalan yang sudah disiapkan TUHAN bagi
kita itu.
Dalam menghadapi masalah, banyak orang Kristen yang
menunggu petunjuk dan visi TUHAN. Terus menunggu dan tidak bertindak.
TUHAN menyuruh kita bertindak seperti Daud yang bertindak menghadapi
Goliat. Seandainya TUHAN memberikan kesempatan dua proyek sekaligus
untuk kita tangani dan kita mampu mengerjakannya, mengapa tidak kita
ambil keduanya. Seandainya kita cuma mampu mengerjakannya satu saja,
kita dapat memilih salah satu yang paling sesuai untuk kita.
Misalnya, seorang ibu menyiapkan dua jenis makanan untuk anaknya. Si
anak makan kedua-duanya, apakah ibunya akan memarahinya ? Tidak.
Seandainya hanya makan salah satunya saja, boleh saja. Kalau si anak
sama sekali tidak menyentuh makanan yang sudah disediakan ibunya,
padahal ia lapar berat ? Itu bodoh.
Kita perlu mengerti
perbedaan antara bertindak dengan iman dan menanti kehendak TUHAN.
Sebagai BAPA, DIA pasti menghendaki kita menang. Karena itu jangan kita
mengatakan, "Aku menanti kemenangan dari TUHAN" jika TUHAN menginginkan
kita untuk bertindak. Hari ini bertindak, hari ini juga kemenangan itu
kita peroleh. Menunda bertindak berarti menunda kemenangan. Seandainya
Daud menunda memenggal kepala Goliat sehari atau dua hari kemudian,
kemenangan itu tertunda sehari atau dua hari. Bahkan, mungkin keadaan
berbalik. Bukan Daud yang memenggal Goliat, tetapi Goliat yang memenggal
Daud karena Daud tidak segera bertindak.
Perkataan Daud, bahwa
TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan lembing, bukan dengan
kekuatan dan keahlian strategi Daud dalam menghadapi Goliat, namun
memakai kekuatan TUHAN. Keyakinan Daud ini berbeda dengan metode Saul
yang mengandalkan pedangnya. Senjata itu tidak dikehendaki TUHAN, tidak
mampu membawa kemenangan. Itulah sebabnya Saul menjadi tawar hati.
Pertempuran itu di tangan TUHAN, kemenangan itu dari TUHAN. Namun, yang
merebut kemenangan itu harus kita. Majulah bersama TUHAN dengan langkah
pasti seperti Daud. Tinggal selangkah lagi kemenangan itu seutuhnya
menjadi milik kita, apa pun juga masalah itu, seberapa pun besarnya
masalah itu. Dengan menggunakan kekuatan dari TUHAN tidak ada masalah
yang terlalu besar dan melebihi kekuatan kita, Amin.
TUHAN YESUS Memberkati.